“Katanya fokus itu bagus, tapi kok gue malah jadi zombie korporat ya?”
Kita semua punya teman (atau mungkin
kita sendiri) yang tiap hari kerjaannya serius, fokus, rajin, no drama, no
basa-basi. Tapi, justru mereka yang duluan tumbang. Yang fokus malah paling
cepet burnout. Lho, kok bisa?
Fokus itu bukan masalah. Tapi kalau terlalu fokus… bisa jadi masalah.
Coba bayangin matahari. Cahaya dia
bisa bikin hangat. Tapi kalau lo pakai kaca pembesar dan fokusin ke satu titik
terus-menerus, bisa-bisa yang kena malah kebakar.
Begitu juga kita. Fokus itu penting, untuk mengarahkan semua potensi ke satu
titik tertentu saja with no option.
Tapi kalau terlalu intens, tanpa
henti, dan selalu ngoyo, yang ada bukan goal yang tercapai, tapi "fried
brain syndrome" (sindrom otak goreng alias terlalu capek mikir).
Dan lucunya, yang terlalu fokus sering
ngerasa harus jadi “pahlawan tanpa lelah”. Pagi-pagi udah online. Siang lupa
makan. Malam masih bales chat grup kantor. Weekend? “Kalau urgent, chat aja
ya!”
Tapi ya itu… akhirnya bukan sukses yang didapat, tapi burnout yang nyamber.
Fokus bisa bikin tajam, tapi juga bisa bikin kaku.
Ada istilah: "Too much of a
good thing can be bad." (Terlalu banyak hal baik, bisa jadi buruk.)
Fokus itu bagus… sampai lo jadi nggak fleksibel.
Lo udah bikin rencana rapih, terus pas
ada perubahan, lo panik. Lo maunya A ke B, padahal tim mau A ke Z dulu baru
balik ke B. Lo jadi kayak GPS yang error karena nggak bisa recalculating.
Dan sering kali, orang yang terlalu
fokus juga lupa satu hal: mereka bukan robot. Mereka manusia. Manusia perlu
ngopi, perlu bengong, perlu jalan ke Indomaret tanpa beban deadline.
Tapi fokus berlebihan bikin kita mikir: “Gue nggak boleh berhenti. Nanti
progress gue mundur.”
Padahal, pause bukan berarti kalah.
Jadi, harus gimana dong?
Gampang: Jadi fokus yang manusiawi.
- Fokus
itu bukan berarti lo harus ngasih semua energi dalam satu waktu. Coba atur
fokus dalam “sprint pendek”, bukan maraton tanpa istirahat.
- “Don’t
put all your eggs in one basket” (jangan taruh semua telur di satu
keranjang). Punya fokus, iya. Tapi jangan sampe hidup lo isinya cuma
kerjaan doang.
- Kasih
ruang buat ngerasa. Kalau udah mulai bete sama layar, itu alarm natural
tubuh lo buat istirahat.
- “Know
when to zoom in, and when to zoom out.” Tahu kapan detail penting, dan
kapan harus lihat gambar besarnya.
Bukan Soal Ngeluh, Tapi Soal Ngeh.
Artikel ini bukan buat ngajak ngeluh
bareng. Bukan juga nyuruh lo jadi karyawan santai-santai club. Tapi supaya kita
bisa jujur aja dulu: fokus itu bagus, asal nggak bikin lo ilang arah.
Serius itu perlu. Tapi kalau
keseriusan bikin lo kehilangan rasa hidup, ya lo bukan lagi produktif—lo cuma
lagi berubah jadi versi korporat dari zombie.
Jadi yuk, tetap fokus. Tapi juga tetap
hidup. Karena pada akhirnya, “you can't pour from an empty cup”—lo nggak
bisa ngasih hasil terbaik kalau lo sendiri udah kosong.
No comments:
Post a Comment