Kenapa KPI yang Anda kejar bisa diam-diam merusak kualitas
kerja—dan bagaimana mengembalikan maknanya.
Pernah merasa ini aneh? Target tercapai. Angka terlihat bagus.Laporan rapi.
Tapi entah kenapa…tim terasa makin lelah, makin kaku, dan kehilangan inisiatif.
Kalau ini pernah terjadi, besar kemungkinan Anda sedang berhadapan dengan satu konsep penting dalam manajemen:
Goodhart’s Law.
Apa itu Goodhart’s Law?
Diperkenalkan oleh ekonom Inggris, Charles Goodhart, konsep ini berbunyi:
“When a measure becomes a target, it ceases to be a good measure.”
Artinya sederhana, tapi efeknya luas:
Saat sebuah ukuran (KPI, angka performa, metrik) dijadikan target utama,
orang akan mengubah perilakunya untuk memenuhi angka tersebut—
bukan lagi untuk mencapai kualitas yang sebenarnya ingin diukur.
Ini bukan teori abstrak. Ini terjadi setiap hari.
Tim sales mengejar closing, tapi relasi jangka panjang rusak.
Karyawan terlihat sibuk, tapi sebenarnya hanya “busy looking productive”.
Organisasi mencapai target, tapi kehilangan daya hidupnya. Ini yang sering tidak disadari:
you hit the number, but you lose the meaning.
Dari “measuring performance” menjadi “manipulating behavior”
Awalnya, KPI dibuat untuk membantu. Sebagai kompas. Sebagai alat refleksi. Sebagai indikator arah.
Tapi ketika KPI berubah jadi target mutlak, fungsinya bergeser. Bukan lagi untuk memahami performa, tapi untuk mengendalikan hasil.
Dan di titik ini, perilaku mulai berubah:
Pernah merasa ini aneh? Target tercapai. Angka terlihat bagus.Laporan rapi.
Tapi entah kenapa…tim terasa makin lelah, makin kaku, dan kehilangan inisiatif.
Kalau ini pernah terjadi, besar kemungkinan Anda sedang berhadapan dengan satu konsep penting dalam manajemen:
Goodhart’s Law.
Apa itu Goodhart’s Law?
Diperkenalkan oleh ekonom Inggris, Charles Goodhart, konsep ini berbunyi:
“When a measure becomes a target, it ceases to be a good measure.”
Artinya sederhana, tapi efeknya luas:
Saat sebuah ukuran (KPI, angka performa, metrik) dijadikan target utama,
orang akan mengubah perilakunya untuk memenuhi angka tersebut—
bukan lagi untuk mencapai kualitas yang sebenarnya ingin diukur.
Ini bukan teori abstrak. Ini terjadi setiap hari.
Tim sales mengejar closing, tapi relasi jangka panjang rusak.
Karyawan terlihat sibuk, tapi sebenarnya hanya “busy looking productive”.
Organisasi mencapai target, tapi kehilangan daya hidupnya. Ini yang sering tidak disadari:
you hit the number, but you lose the meaning.
Dari “measuring performance” menjadi “manipulating behavior”
Awalnya, KPI dibuat untuk membantu. Sebagai kompas. Sebagai alat refleksi. Sebagai indikator arah.
Tapi ketika KPI berubah jadi target mutlak, fungsinya bergeser. Bukan lagi untuk memahami performa, tapi untuk mengendalikan hasil.
Dan di titik ini, perilaku mulai berubah:
- Orang bermain aman agar angka tidak turun
- Fokus bergeser ke “apa yang terlihat bagus di laporan”
- Keputusan diambil bukan karena benar, tapi karena “aman di KPI”
Jebakan level tinggi: performance preservation trap
Yang menarik. Masalah ini justru sering muncul di tim yang sudah bagus.
Di level ini, orang tidak lagi belajar dari nol. Skill sudah terbentuk. Sistem sudah jalan.
Tapi muncul jebakan baru: takut turun.
Akhirnya energi tidak lagi dipakai untuk berkembang, tapi untuk menjaga agar angka tetap stabil.
Main aman. Kurangi eksperimen. Hindari risiko.
Secara kasat mata: stabil. Secara prinsipil: stagnan.
Ini yang kita sebut: performance preservation trap.
Yang tidak masuk dashboard, justru yang paling menentukan
Ada satu hal yang sering terlewat dalam sistem berbasis angka:
Tidak semua hal penting bisa diukur.
Padahal performa tinggi selalu dibangun oleh hal-hal seperti:
· ketenangan dalam tekanan
Masalahnya? Hal-hal ini tidak muncul di KPI. Dan karena tidak terlihat, sering kali tidak dilatih secara sadar.
Sebuah refleksi sederhana dari panahan
Dalam panahan, hasil akhir memang angka. Setiap tembakan dinilai. Dijumlahkan. Diranking.
Sekilas sangat objektif. Tapi di balik itu…
Pemanah berpengalaman tahu satu hal:
Fokus berlebihan pada skor justru bisa merusak performa.
Bukan karena mereka tidak mampu. Tapi karena perhatian mereka bergeser.
Dari proses… ke hasil.
Dari stabilitas… ke angka.
Dari kapasitas… ke pencapaian.
Dan di titik itu, mereka masuk ke pola yang sama: score chasing loop.
Padahal setiap skor tinggi adalah efek - bukan penyebab.
Ia lahir dari ketenangan, konsistensi, kepercayaan diri, dan kontrol diri.
Ironisnya, saat skor dijadikan tujuan utama, kapasitas yang menghasilkan skor itu justru melemah.
Kembali ke esensi kepemimpinan
Goodhart’s Law mengingatkan satu hal penting:
Target tetap dibutuhkan. Tapi target tidak boleh menggantikan pemahaman.
Karena pada akhirnya, “Masalahnya bukan pada target yang Anda kejar -
tapi pada apa yang Anda abaikan saat mengejarnya.”
Organisasi yang bertumbuh bukan yang sekadar mencapai angka. Tapi yang mampu menjaga keseimbangan antara apa yang diukur, dan apa yang membentuk kemampuan untuk mencapainya.
Gentle Reminder
Di tengah dunia kerja yang semakin terukur, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana membuat sistem lebih presisi. Tapi bagaimana memastikan manusia di dalamnya
tidak kehilangan kesadaran.
Dan di sinilah pendekatan experiential—seperti panahan—menjadi relevan.
Bukan untuk menggantikan sistem. Tapi untuk mengingatkan kembali bahwa performa sejati selalu dimulai dari dalam, bukan dari angka.
No comments:
Post a Comment