“Dulu kamu pikir setelah mencapai itu semuanya akan terasa
lebih tenang. Ternyata targetnya tercapai… tapi pikiran tetap berisik.”
Ada masa ketika kita percaya bahwa hidup hanya perlu sedikit
lagi untuk terasa lebih lega. Sedikit lagi target tercapai. Sedikit lagi
kondisi membaik. Sedikit lagi kerja keras dibayar lunas oleh rasa tenang yang
selama ini dicari.
Dan memang, ketika pencapaian itu datang, ada rasa puas yang
nyata. Kita merasa seperti akhirnya berhasil keluar dari fase penuh tekanan.
Tapi anehnya, perasaan itu sering tidak bertahan lama. Tidak butuh waktu lama
sampai kepala mulai sibuk lagi memikirkan target berikutnya..standar berikutnya,,pencapaian
berikutnya.
Hal yang dulu terasa seperti mimpi, perlahan berubah jadi
hal biasa.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah Hedonic Adaptation. Manusia punya kecenderungan untuk cepat beradaptasi terhadap kenyamanan, pencapaian, bahkan kebahagiaan.
Apa yang dulu membuat kita berbinar, lama-lama hanya terasa normal, seperti diibaratkan: “The grass is always greener on the other side.”
Masalahnya, setelah usaha keras kita lakukan & tiba di sisi lain yang di idamkan, kita malah menemukan bahwa rumput itu juga akhirnya terlihat biasa saja.
Lalu hidup bergerak lagi. Kita mulai mengejar sesuatu yang
baru, seolah ketenangan selalu berada satu langkah di depan. Dan tanpa sadar,
banyak orang akhirnya hidup seperti sedang berada di atas happiness
treadmill. Bergerak terus, sibuk terus, produktif terus… tapi rasa
“cukup”-nya tidak pernah benar-benar menetap..Like a hamster on a wheel.
Kelihatannya maju, padahal sebenarnya hanya terus berputar
di pola yang sama.
Yang lebih melelahkan, banyak orang akhirnya mulai kecanduan rasa “harus terus bergerak.” Kalau sehari terasa kosong, muncul rasa bersalah. Kalau terlalu santai, muncul kecemasan. Kalau tidak sibuk, hidup terasa seperti kehilangan arah.
Seolah diam adalah ancaman.
Padahal belum tentu. Kadang itu hanya tanda bahwa seseorang
sudah terlalu lama hidup dalam mode hustle addiction. Kesibukan bukan
lagi kebutuhan, melainkan cara untuk “merasa hidup”. Makanya banyak orang tetap
membuka laptop meski tubuhnya lelah.
Tetap mencari distraksi meski pikirannya penuh. Tetap
menambah target baru meski sebenarnya belum sempat menikmati pencapaian yang
sudah ditangan.
Karena kalau semuanya tiba-tiba sunyi, ada ruang kosong yang mulai bikin orang merasa tidak nyaman.
Dan itu yang sering tidak kita sadari. Bisa jadi kita bukan
sedang mengejar tujuan lagi. Kita hanya takut berhenti - “Busy is the new
validation.”
Semakin sibuk seseorang terlihat, semakin dianggap penting.
Semakin penuh jadwalnya, semakin dianggap sukses. Akhirnya hidup berubah jadi
perlombaan tanpa garis finish.
Running on fumes..Secara fisik masih bergerak, tetapi secara mental sebenarnya sudah kehabisan tenaga.
Tanda-Tanda Kamu Sedang Terjebak dalam Hedonic Adaptation
Kadang kondisi ini datang pelan-pelan sampai kita tidak sadar sedang mengalaminya. Tapi ada beberapa pola yang cukup sering muncul.
Kamu mulai sulit menikmati pencapaian karena otak langsung sibuk mencari target berikutnya. Bahkan setelah berhasil mencapai sesuatu yang dulu sangat diinginkan, rasa puasnya cepat sekali hilang.
Waktu istirahat juga terasa aneh. Bukannya lega, kamu justru
merasa gelisah kalau terlalu lama santai. Seolah hidup harus terus “on” supaya
terasa berarti.
Hal-hal sederhana yang dulu menyenangkan juga mulai terasa
hambar. Ngobrol santai, menikmati sore, atau sekadar duduk tanpa distraksi
terasa membosankan karena otak sudah terlalu terbiasa dengan stimulasi cepat.
Kamu juga mulai hidup dalam mode autopilot. Hari-hari
berjalan cepat, target demi target selesai, tetapi ada bagian kecil dalam diri
yang diam-diam bertanya:
“Sebenernya gue lagi ngejar apa?”
Dan mungkin tanda yang paling sering tidak disadari adalah
ini:
kamu terus merasa kurang, bahkan ketika hidupmu sebenarnya sudah cukup baik.
“The finish line keeps moving.”
Begitu satu target tercapai, otak langsung menciptakan garis finish yang baru.
Jadi… Gimana Cara Keluar dari Happiness Treadmill?
Banyak orang mengira solusinya adalah mencari liburan baru, hiburan baru, atau pencapaian baru. Padahal kalau akar masalahnya adalah hedonic adaptation, stimulasi tambahan sering kali hanya bekerja sementara.
Yang dibutuhkan justru bukan selalu “lebih banyak”, tetapi kemampuan untuk kembali merasakan hidup secara utuh.
Salah satunya dengan mulai mengurangi kebiasaan hidup dalam
mode serba otomatis. Memberi ruang untuk melakukan sesuatu tanpa tuntutan
produktivitas. Bukan untuk dipamerkan. Bukan untuk pencapaian. Bukan untuk
validasi.
Hanya untuk benar-benar hadir.
Karena itu sekarang semakin banyak orang tertarik pada aktivitas yang membuat kepala mereka berhenti “lari” sebentar. Aktivitas yang tidak memaksa otak terus mengejar stimulasi berikutnya.
Dan menariknya, cukup banyak orang menemukan pengalaman itu
melalui panahan.
Bukan karena panahan membuat hidup langsung berubah total. Tetapi karena untuk beberapa saat, seseorang berhenti hidup dalam pola scroll, rush, repeat.
Tidak ada notifikasi yang terus menarik perhatian. Tidak ada
tekanan untuk multitasking. Tidak ada perlombaan siapa yang paling sibuk. Yang
ada hanya satu pengalaman sederhana yang perlahan membuat seseorang sadar bahwa
dirinya sudah terlalu lama hidup dalam mode mengejar.
Dan buat banyak orang, itu terasa seperti menekan tombol pause
setelah terlalu lama hidup dengan kepala penuh kebisingan.
Karena ternyata ketenangan tidak selalu datang dari pencapaian baru.
Kadang ketenangan muncul saat kita berhenti sebentar dari kebutuhan untuk terus merasa kurang.
Maybe that’s the real trap of the happiness treadmill.
Bukan karena hidup kita buruk.
Tapi karena kita terlalu cepat terbiasa menemukan target baru yang penting dikejar, lalu lupa bagaimana rasanya benar-benar menikmatinya.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah Hedonic Adaptation. Manusia punya kecenderungan untuk cepat beradaptasi terhadap kenyamanan, pencapaian, bahkan kebahagiaan.
Apa yang dulu membuat kita berbinar, lama-lama hanya terasa normal, seperti diibaratkan: “The grass is always greener on the other side.”
Masalahnya, setelah usaha keras kita lakukan & tiba di sisi lain yang di idamkan, kita malah menemukan bahwa rumput itu juga akhirnya terlihat biasa saja.
Yang lebih melelahkan, banyak orang akhirnya mulai kecanduan rasa “harus terus bergerak.” Kalau sehari terasa kosong, muncul rasa bersalah. Kalau terlalu santai, muncul kecemasan. Kalau tidak sibuk, hidup terasa seperti kehilangan arah.
Seolah diam adalah ancaman.
Karena kalau semuanya tiba-tiba sunyi, ada ruang kosong yang mulai bikin orang merasa tidak nyaman.
Running on fumes..Secara fisik masih bergerak, tetapi secara mental sebenarnya sudah kehabisan tenaga.
Kadang kondisi ini datang pelan-pelan sampai kita tidak sadar sedang mengalaminya. Tapi ada beberapa pola yang cukup sering muncul.
Kamu mulai sulit menikmati pencapaian karena otak langsung sibuk mencari target berikutnya. Bahkan setelah berhasil mencapai sesuatu yang dulu sangat diinginkan, rasa puasnya cepat sekali hilang.
“Sebenernya gue lagi ngejar apa?”
kamu terus merasa kurang, bahkan ketika hidupmu sebenarnya sudah cukup baik.
“The finish line keeps moving.”
Begitu satu target tercapai, otak langsung menciptakan garis finish yang baru.
Banyak orang mengira solusinya adalah mencari liburan baru, hiburan baru, atau pencapaian baru. Padahal kalau akar masalahnya adalah hedonic adaptation, stimulasi tambahan sering kali hanya bekerja sementara.
Yang dibutuhkan justru bukan selalu “lebih banyak”, tetapi kemampuan untuk kembali merasakan hidup secara utuh.
Hanya untuk benar-benar hadir.
Karena itu sekarang semakin banyak orang tertarik pada aktivitas yang membuat kepala mereka berhenti “lari” sebentar. Aktivitas yang tidak memaksa otak terus mengejar stimulasi berikutnya.
Bukan karena panahan membuat hidup langsung berubah total. Tetapi karena untuk beberapa saat, seseorang berhenti hidup dalam pola scroll, rush, repeat.
Karena ternyata ketenangan tidak selalu datang dari pencapaian baru.
Kadang ketenangan muncul saat kita berhenti sebentar dari kebutuhan untuk terus merasa kurang.
Maybe that’s the real trap of the happiness treadmill.
Tapi karena kita terlalu cepat terbiasa menemukan target baru yang penting dikejar, lalu lupa bagaimana rasanya benar-benar menikmatinya.
No comments:
Post a Comment