Tapi Bisa Jadi Cara Kita Memaknai Kehilangan
Itulah yang Sering Menyiksa.
Asti masih menyimpan nomor telepon itu.
Padahal sudah tidak pernah dihubungi hampir setahun terakhir.
Chat terakhir mereka bahkan cuma formalitas pendek tanpa emosi. Tapi entah kenapa, Asti belum juga menghapusnya. Sesekali ia masih membuka profilnya. Bukan untuk memulai percakapan. Hanya memastikan orang itu masih ada.
Padahal sudah tidak pernah dihubungi hampir setahun terakhir.
Chat terakhir mereka bahkan cuma formalitas pendek tanpa emosi. Tapi entah kenapa, Asti belum juga menghapusnya. Sesekali ia masih membuka profilnya. Bukan untuk memulai percakapan. Hanya memastikan orang itu masih ada.
Aneh memang.
Kadang yang paling sulit dilepaskan bukan hubungan yang indah.tapi hubungan yang sebenarnya sudah lama melelahkan.
Ada orang yang bertahan di pekerjaan yang membuatnya burnout setiap hari. Ada yang mempertahankan pertemanan yang diam-diam menguras energi. Ada juga yang terus memaksa menjadi versi diri lama hanya karena takut kehilangan identitas yang selama ini dibangun susah payah.
Tapi karena kehilangan terasa lebih menakutkan daripada kemungkinan bahagia yang belum pasti.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai Loss Aversion — kecenderungan manusia untuk merasakan kehilangan jauh lebih kuat dibanding potensi keuntungan baru.
“Kalau ini dilepas… nanti aku tinggal punya apa?”
Padahal jujur aja… ada kehilangan yang ternyata bikin hidup jauh lebih ringan.
Tapi banyak orang merasa bersalah untuk mengakuinya.
Kita menggenggam ekspektasi.
Menggenggam rasa kecewa.
Menggenggam kebutuhan untuk selalu dimengerti.
Bahkan menggenggam orang-orang yang sebenarnya sudah selesai tinggal di hidup kita.
Eh… jangan-jangan yang selama ini kita pertahankan justru yang bikin capek.
Dan anehnya, semakin takut kehilangan, biasanya kita justru semakin kehilangan diri sendiri.
Lucunya, banyak orang baru sadar setelah semuanya lewat.
Ternyata hidup tidak runtuh saat mereka melepaskan itu, dan mereka justru:
· tidur lebih lelap & tenang,
Banyak juga yang sadar bahwa hidup ternyata jauh lebih luas daripada lingkar masa lalu yang selama ini mereka pertahankan mati-matian.
Bahkan mimpi baru yang dulu tidak sempat hidup.
Karena setelah kita memotong urat masa lalu, perlahan akan
terbentuk otot baru untuk masa depan.
Dan menariknya, banyak titik balik pengalaman seperti ini sering muncul juga saat seorang pemula mencoba belajar panahan.
Banyak peserta latih awal mengira tantangan terbesar dalam panahan
adalah menarik busur atau membidik target. Padahal salah satu latihan tersulit
justru ada pada satu momen kecil:
Dan menariknya, banyak titik balik pengalaman seperti ini sering muncul juga saat seorang pemula mencoba belajar panahan.
Release, detik dimana pemanah melepaskan tali
busur dengan smooth.
Tubuh yang terlalu tegang akan mengganggu aliran gerak.
Dan tanpa sadar, itu sangat mirip dengan hidup.
· semakin tegang,
Padahal sering kali yang mereka nikmati bukan sekadar aktivitas memanahnya.
Tapi pengalaman kecil tentang Letting Go.
Tentang bagaimana tubuh akhirnya memberi izin pada sesuatu untuk pergi.
Dan mungkin hidup juga begitu, tidak semua kehilangan datang untuk menghancurkan kita. Ada kehilangan yang justru membersihkan jalan. Ada yang membebaskan ruang di kepala kita. Ada yang diam-diam menyelamatkan kita dari kelelahan yang terlalu lama dianggap normal.
Kadang hidup cuma meminta kita berhenti menggenggam terlalu keras.
No comments:
Post a Comment